Guru Idaman, Pendidikan Harapan
Setiap kita tentu mengetahui betapa banyak jasa dan pengorbanan yang diberikan oleh seorang guru terhadap muridnya. Berkat kiprah seorang guru, sebuah bangsa mampu menjadi maju. Berkat peran guru pula, suatu negara menjadi lebih bijaksana dan berbudaya, karena usaha guru para tunas-tunas muda mendapatkan kedewasaannya dalam menjalani kehidupan mereka. Peranan dan kiprah itu adalah sebuah amunisi dalam negara dan bangsa. Peran serta guru adalah bukan partisipasi minim hasil, akan tetapi justru peranan utama dalam mengemban cita-cita sebuah kata merdeka.
Guru adalah pendekar bangsa, meretas kebutaan dan kegelapan dalam sebuah masa demi generasi yang kelak akan cerah masa depannya. Bukan lagi hambatan dan rintangan dalam memberikan pengajaran yang diperhitungkan oleh para guru, akan tetapi sebuah nilai pengabdian, kesabaran, tanggung jawab, dan perhatian yang lebih menjadi titik temu mengapa seorang guru mau untuk berjibaku menaklukkan medan dan kenyataan dalam sebuah keadaan yang menyulitkan sekalipun.
Memberi Makna Pada Pembelajaran Agama Bagi Penerus Nusa
Situasi di Indonesia beberapa dekade terakhir mengundang banyak keprihatinan dari berbagai pihak. Indonesia acapkali menjadi bahan pembicaraan di mata Internasional, bukan saja karena prestasinya, akan tetapi juga karena carut-marutnya kondisi sosial-politik di negara ini. Selain itu, didukung pula dengan keamanan yang dirasa sudah tak lagi kondusif. Munculnya fenomena disintegrasi bangsa, pudarnya semangat nasionalisme, tergesernya kerangka sosial-moral berlandaskan budaya, hingga fenomena radikalisme, dan fundamentalisme, yang kesemua itu dilakukan oleh para generasi pelanjut nusa.
Kekerasan, seakan menjadi bahan pemberitaan yang tak pernah surut dari masa ke masa. Antar suku, agama, golongan, bahkan lebih miris lagi ialah antar pelajar. Sebagai sebuah institusi pendidikan, sekolah adalah rumah besar bagi sebuah orientasi kedamaian. Citra-citra rumah besar tersebut tidak bisa dilepaskan dari lingkungan dimana seseorang tumbuh dan berkembang mengecap manisnya perjalanan kehidupan.
Penerapan Nilai Toleransi Demi Terwujudnya Pendidikan Persatuan
Pendidikan adalah sebuah instrumen kesadaran. Substansi pendidikan ialah transformasi pengetahuan dari ketidaktahuan menjadi paham atau bahkan profesional, sehingga dengan demikian pembelajaran dalam sebuah elemen pendidikan merupakan suatu aktifitas membangun kesadaran dan sebuah gerakan untuk menggali potensi atas nilai-nilai kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu upaya-upaya normatif untuk melepas banyak hal negatif dari dalam diri seseorang kepada seseorang lainnya.
Secara lugas pendidikan adalah mencetak sosok bermartabat, memiliki harga diri, serta kemuliaan. Hal itulah yang dimaksudkan oleh Paulo Fraire yang dikutip oleh Firdaus M. Yunus, pendidikan adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan sampai kepada ketertinggalan. Bagi Fraire pula, oleh karena manusia yang menjadi pusat pendidikan, maka manusia harus menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang bermartabat. (Yunus: 2004).
Sekalipun Awalnya Keterpaksaan
Ada banyak hal yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan hidayah kedalam dirinya secara umum. Memang selalu ada saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjalanan orang-orang sebelum kita. Tentang romansa cinta, jejak kebahagiaan, ataupun semangat-semangat menyala penuh keberanian. Semestinya kisah-kisah tersebut dapat menjadi kaca spion terbaik bagi diri kita. Untuk menyamaratakan bahwa bukan kali ini kita saja yang berbahagia ataupun yang nelangsa.
Karena Ia, Kita Berharga
Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau, “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”. Dan Rosululloh menjawab, “Ibumu…”. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, “Siapa lagi ya Rosul?”. Rosul menjawab, “Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”. “Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan kemudian saudara-saudarmu…”
Ibu..Bunda..Mama..Emak..Ummi… Siapapun kita memanggilnya…mereka adalah pahlawan kita!! Dan sungguh.. Islam telah memuliakan seorang wanita tangguh bernama ibu..yang namanya telah disebutkan oleh Rosulullah Shallallohu’Alaihi Wassalam dalam hadist tersebut diatas…
Ibu…. Tak pernah terhitung, berapa kali nama itu (dan penyebutan lainnya) disebut, dalam hitungan detik, menit, jam bahkan hari diseluruh sudut bumi ini. Nama yang menetramkan setiap kali disebut manakala hati dan jiwa kita merasa galau.. Nama yang membuat rindu manakala kita jauh darinya…. Nama yang akan selalu ada dan tinggal di hati kita….
Wajahnya yang teduh..suara yang lembut…sentuhan yang menghangatkan…nasehat yang menguatkan…dan senyuman yang menenangkan…. Sungguh… semua yang ada didalam diri beliau tidak akan pernah tergantikan oleh sosok manusia manapun atau bahkan tambatan hati kita sekalipun.









Visitor’s Says