<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu Usamah Rizki</title>
	<atom:link href="http://abuusamahrizki.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuusamahrizki.wordpress.com</link>
	<description>Menggugah Kesadaran Berfikir, Mengasah Kepekaan Nurani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 12:26:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abuusamahrizki.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abu Usamah Rizki</title>
		<link>http://abuusamahrizki.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abuusamahrizki.wordpress.com/osd.xml" title="Abu Usamah Rizki" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abuusamahrizki.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Guru Idaman, Pendidikan Harapan</title>
		<link>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/11/27/guru-idaman-pendidikan-harapan/</link>
		<comments>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/11/27/guru-idaman-pendidikan-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 06:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuusamahrizki</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuusamahrizki.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kita tentu mengetahui betapa banyak jasa dan pengorbanan yang diberikan oleh seorang guru terhadap muridnya. Berkat kiprah seorang guru, sebuah bangsa mampu menjadi maju. Berkat peran guru pula, suatu negara menjadi lebih bijaksana dan berbudaya, karena usaha guru para tunas-tunas muda mendapatkan kedewasaannya dalam menjalani kehidupan mereka. Peranan dan kiprah itu adalah sebuah amunisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=236&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center"><img class="aligncenter" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSht4nF2h9da0tbObS0eqgNnw8t7TUjTxSo1Fl49yq4vZ8N3Tsp-g" alt="" width="226" height="223" /></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kita tentu mengetahui betapa banyak jasa dan pengorbanan yang diberikan oleh seorang guru terhadap muridnya. Berkat kiprah seorang guru, sebuah bangsa mampu menjadi maju. Berkat peran guru pula, suatu negara menjadi lebih bijaksana dan berbudaya, karena usaha guru para tunas-tunas muda mendapatkan kedewasaannya dalam menjalani kehidupan mereka. Peranan dan kiprah itu adalah sebuah amunisi dalam negara dan bangsa. Peran serta guru adalah bukan partisipasi minim hasil, akan tetapi justru peranan utama dalam mengemban cita-cita sebuah kata merdeka.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru adalah pendekar bangsa, meretas kebutaan dan kegelapan dalam sebuah masa demi generasi yang kelak akan cerah masa depannya. Bukan lagi hambatan dan rintangan dalam memberikan pengajaran yang diperhitungkan oleh para guru, akan tetapi sebuah nilai pengabdian, kesabaran, tanggung jawab, dan perhatian yang lebih menjadi titik temu mengapa seorang guru mau untuk berjibaku menaklukkan medan dan kenyataan dalam sebuah keadaan yang menyulitkan sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-236"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Siapapun kita, tentu wajib menghormati jasa guru, sebab dengan tangan-tangan mereka, seorang manusia mereguk pengalaman, menjadi para pimpinan, meraih kebahagiaan, dan menetapkan kedewasaan. Bakti guru terhadap negeri akan terus ada dan mengalir hingga dunia menutup seluruh muaranya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menjadi Guru Idaman</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sudah banyak diantara kita memahami dan mengerti akan jasa setiap guru. Banyak buku dan media-media pembelajaran yang telah kita reguk untuk mendapatkan ilmu serta pengalaman berharga. Menjadi guru ialah soal ketulusan dan kesadaran. Panggilan-panggilan itu senantiasa hadir demi menjadikan sosok-sosok guru sebagai teladan serta panutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hampir di seluruh penjuru negeri ini, setiap institusi dalam sebuah provinsi menggelar pendidikan untuk jenjang sebagai tenaga pengajar atau yang erat kaitannya dengan ilmu-ilmu kependidikan. Banyak sudah fasilitas-fasilitas untuk menciptakan guru disediakan oleh pemerintah negeri ini, antusiasme mereka dalam memajukan bangsa melalui pendidikan adalah pilihan yang sama sekali tak ada kesalahan di dalamnya. Buku-buku bertema pendidikan dan pengajaran dari level sederhana hingga tingkat luar biasa tersedia dengan mudah di berbagai media ruang. Tingkat pendidikan untuk jenjang ini disediakan hingga tak ada gelar lagi selain pakar. Kompetensi, kompetisi, dan kualifikasi diujikan untuk mendapatkan tenaga pengajar dan pendidik sesuai dengan tingkat penguasaan tertentu dan di fasilitasi secara total oleh pemerintah. Sungguh berbahagia tentunya menjadi seorang guru. Jasa dikenang, bakti diteladan, cinta disimpan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, perjuangan menetapkan nilai-nilai ideal belum mendapatkan hasil apabila tidak dilanjutkan untuk menjadi sosok idaman. Standarisasi menghasilkan tenaga pendidik ideal seringkali dilakukan, akan tetapi standarisasi menjadikan guru idaman hingga kini belum ditemukan format formulanya. Sebab menjadi guru idaman ialah soal menyenangkan, menenangkan, dan memenangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang guru idaman itulah potret guru penuh dengan penerimaan.dalam hal menyenangkan, mereka selalu berusaha untuk menjadikan murid sebagai sosok-sosok penuh harapan di masa depan. Memberikan pengajaran tanpa jemu dengan reaksi-reaksi hasil menyenangkan dari muridnya. Bukan berarti pembelajaran menjadi tak efektif sebab hanya bersenang-senang saja. Akan tetapi justru pembelajaran yang dihasilkan ialah pembelajaran penuh inspiratif. Siswa belajar tanpa tekanan, dan siswa memiliki banyak imajinasi dan penggambaran. Dalam hal ini seorang guru bukan lagi sebagai sosok menakutkan dengan membawa mistar kayu panjang, atau membawa pukulan terbuat dari bambu. Guru justru datang dengan banyak ide dan gagasan yang siap untuk mendapatkan penerimaan dari setiap siswanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru idaman adalah sosok menenangkan, mereka sadar bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi. Kegagalan memiliki konsekuensi, keberhasilan pun demikian. Sehingga memacu setiap guru untuk tenang adalah tugas penuh konstan. Ketenangan adakalanya terusik dengan ganguan-ganguan dari luar maupun dalam diri guru itu sendiri, ketenangan adakalanya kalah dengan gejolak emosi yang berasal dari lingkungan. Akan tetapi begitulah seni dari ketenangan, ia harus dipertahankan. Sebab apabila seorang guru mampu menampilkan sosok dengan penuh ketenangan, kelak setiap siswa akan menghargai, mengikuti, dan meniru apa yang diperbuat. Kebanyakan problem besar muncul adalah bukan karena masalah itu besar, akan tetapi problem itu muncul karena bisa jadi seseorang tidak memiliki jiwa-jiwa penuh dengan ketenangan dalam menghadapi setiap persoalan. Sehingga untuk menjadi guru idaman, bakat dan kompetensi saja tidak cukup, sebelum dilengkapi dengan ketenangan yang akan menjadikannya siap menghadapi berbagai macam rintangan dan keberhasilan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang guru idaman akan senantiasa memenangkan hati setiap muridnya dalam keadaan apapun. Dalam posisi ini setiap murid adalah sosok penting, setiap murid memiliki andil dan peran sama dalam kelas maupun lingkungan sosialnya, dalam keadaan ini setiap siswa memiliki kesejajaran. Guru yang memenangkan, ia tidak pernah berat sebelah, membedakan murid dalam mendapatkan pengajaran, apakah ia cerdas atau tidak, berasal dari keluarga kaya maupun miskin, meskipun yatim ataupun pengusaha, dhuafa atau pegawai swasta orangtuanya. Tidak, akan tetapi guru yang memenangkan hanya memiliki satu indikator kemenangan dari muridnya. Yakni setiap murid menjadi apa yang mereka inginkan ketika mereka telah dewasa nanti dan melakukan apapun untuk apa yang mereka inginkan tersebut dengan sebaik-baiknya. Begitulah guru yang senantiasa memenangkan hati setiap muridnya, mereka berdiri untuk sebuah sejarah di masa mendatang. Guru-guru tersebut ada hari ini, untuk anak-anak masa depan. Sehingga bagi seorang guru dengan karakter senantiasa memenangkan muridnya, kata kesulitan sudah terhapus dalam kamus hidupnya berganti menjadi ketulusan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memberikan Pembelajaran Optimal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Guru kini tidak hanya cukup bermodal dengan gaya mengajar tradisional dan konvensional, seorang guru dituntut untuk memberikan pembelajaran penuh visi disertai pengembangan strategi sesuai dengan tuntutan lingkungan serta kondisi jaman. Pola pembelajaran atas bawah sebagaimana layaknya komandan dengan prajurit mungkin dinilai sudah tak lagi relevan dengan keadaan hari ini. Pendidikan egaliter atau penuh dengan kesetaraan menjadi tuntutan yang harus disegerakan. Sebab setiap anak hari ini adalah anak-anak yang berbeda zamannya dengan seorang guru kini. Maka, langkah praktis adalah bukan lagi bagaimana seorang anak mengikuti gurunya, akan tetapi bagaimana seorang guru dapat menyejajarkan posisi dengan muridnya pada beberapa keadaan tertentu di sebuah proses pembelajaran. Model-model pembelajaran terus mengalami kemajuan secara kontinu, evolusi dari setiap formula di uji coba dengan eksperimen-eksperimen sederhana untuk mendapatkan kualitas pembelajaran optimal dan hasil pendidikan maksimal.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendapatkan pembelajaran optimal dibutuhkan sumberdaya, alat, media, serta pendukung-pendukung lainnya. Dengan terpenuhinya hak-hak dasar pendidikan tersebut, kelak setiap guru akan mampu mengembangkan metodologi pembelajaran dengan hasil maksimal. Tidak lagi guru merasa sulit untuk menerangkan pelajaran bersifat eksakta apabila laboratorium IPA terpenuhi dengan alat peraga, tidak lagi guru kesulitan untuk melakukan observasi kondisi sosial pada pelajaran IPS apabila perlengkapan untuk terjun ke lapangan sudah memiliki kemampuan dan pengalaman, tidak ada lagi guru yang kesulitan mengucapkan tatabahasa serta aksara bila laboratorium bahasa diberikan dukungan secara maksimal. Seorang guru adalah seorang regulator yang menghubungkan medium-medium alat dengan objek pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mampu memberikan dukungan maksimal demi majunya pendidikan di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil-hasil maksimal yang didapatkan oleh para siswa bukan hanya sekedar nilai-nilai akademis semata, akan tetapi hasil-hasil dari pendidikan ialah terkait dengan kecakapan hidup, pola pikir anak didik, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, serta memiliki karakter yang baik serta luhur budi pekerti. Tujuan-tujuan itu pula yang menjadikan Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan misi untuk sebuah kecerdasan dan kebaikan karakter.</p>
<p style="text-align:justify;">Peranan guru juga dituntut untuk menghadirkan pembelajaran interaktif dan mampu mengasah daya kritis setiap siswanya. Hal ini juga merupakan hasil dari metodologi pendidikan yang baik dan tepat guna. Untuk mendapatkan hasil tersebut, tak salah bila kita mengutip prinsip dari pakar <em>Quantum Teaching</em> yakni Bobby de Porter terkait bagaimana menerapkan pola pembelajaran kreatif bagi siswa untuk mendapatkan hasil yang dibangga nantinya. Falsafah prinsip tersebut terimplementasi dalam rancangan kurikulum yang ia buat untuk diterapkan di SuperCamp miliknya, dengan tujuan belajar adalah sebuah proses menyenangkan, maka tiga unsur pendukung harus disertakan, yakni keterampilan akademis, keterampilan dalam hidup, dan tantangan-tantangan fisik (Bobby de Porter, 1992).</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur-unsur tersebut relevan untuk diimplementasikan di Indonesia. Sebuah negara yang memberikan kebebasan dalam menentukan format dan ide-ide pendidikan. Sudah saatnya anak-anak muda di Indonesia diberikan bekal pendidikan sesuai dengan tingkat kemampuannya, paradigma pendidikan dasar yang elementer seperti agama, moral, dan kecakapan hidup tetap menjadi utama. Jika demikian, suksesi dari kesemua itu ialah terwujudnya cita-cita pendidikan yang tertuang dalam amanat dasar negara Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuntutan untuk memberikan pembelajaran optimal dengan hasil maksimal ialah proses penyesuaian dari sebuah efektivitas pembelajaran. Model-model yang kaku, jenuh serta menegangkan menjadi sajian sepi manfaat dan sarat tekanan. Kreatifitas dalam mengemas ide-ide pembelajaran kini menjadi sesuatu yang dituntut oleh para guru. Bagaimana caranya agar ide-ide murid memiliki kesesuaian dengan ide para pendidik. Bagaimana psikologi dapat dijadikan sebagai sebuah rumusan identifikasi, bagaimana imaji dapat menjadi sebuah nilai tatanan potensi. Semua itu terpusat dalam sebuah kerja-kerja kreatif yang dilakukan oleh seorang guru.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal, setiap guru harus memahami bahwa ia adalah lakon bagi banyak kerja-kerja profesi. Seorang guru adalah aktor kala memerankan pembelajaran penuh dengan konsentrasi utama, seorang guru juga dokter kala muridnya terluka dalam sebuah istirahat di sekolah, seorang guru adalah supir dikala anak didiknya tak kunjung dijemput, seorang guru adalah teknisi dikala salah satu alat tulis milik muridnya rusak, dan seorang guru pun kadang dapat bertukar jenis kelamin kala guru wanita secara sontak naluri mengerjakan pekerjaan pria dan sebaliknya. Kerja-kerja kreatif adalah kerja-kerja memukau, guru adalah sosok yang<em> from possible to be impossible.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lantas bagaimana menyajikan agar bayangan-bayangan implementasi kreatif tersebut hadir ditengah pembelajaran, Bobby de Porter mengejawantahkan formulanya dalam buku fenomenalnya, Quantum Learning. Pertama, ingatlah sukses-sukses anda di masa lalu baik yang biasa maupun yang menakjubkan, kedua yakinlah ini dapat menjadi terobosan, ketiga latihlah kreativitas anda dengan permainan mental, keempat ingatlah bahwa kegagalan membawa keberhasilan, kelima raihlah impian dan fantasi anda, keenam biarkan kesenangan memasuki kehidupan anda, ketujuh kumpulkan pengetahuan dari tempat lain, kedelapan pandanglah situasi dari segala sisi, kesembilan bersihkan pikiran anda dari asumsi-asumsi, dan terakhir ubahlah posisi anda sesering mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika pembelajaran kreatif telah menemui muara maknanya, mengharapkan siswa menjadi figur-figur yang kritis dan pembelajaran interaktif pun otomatis akan dicapai dengan sendirinya. Namun jika guru masih menempatkan posisinya pada usaha-usaha stagnan dari jaman lampau dan di modifikasi hanya sebatas penyesuaian. Yakinlah, hal demikian hanya akan menihilkan usaha yang telah dibangun lama dalam sebuah bangku-bangku sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menakar Efektifitas Pembelajaran</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pembelajaran interaktif sebagai usaha awal menghadirkan pola pikir kritis tidak dapat muncul dengan sendirinya. Selain usaha-usaha kreatif diatas, pembelajaran interaktif hadir dengan memperlakukan para manusia didik sesuai dengan kondisinya, bukan dengan dilema atau bias belajar. Oleh karena itu dibutuhkan guru yang mampu mengajar secara efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru yang efektif adalah mereka yang selalu memperdalam keahliannya dalam pengajaran agar pengajaran yang dilakukannya bermanfaat untuk murid luar biasa yang dididiknya. Keefektifan para guru dapat dilihat dalam dua aspek, yaitu banyaknya tujuan pembelajaran yang dicapai oleh murid dan pola pengajaran yang berhubungan dengan pembelajaran seperti waktu, tenaga, dan usaha yang dicurahkan oleh guru. (Jamila, 2005).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari keefektifan pengajaran maka akan menunjukkan guru yang mengajar adalah orang efisien dengan ciri-ciri sebagai berikut; mempunyai kemandirian yang tinggi, mempunyai pendidikan yang baik, mempunyai pengetahuan dan minat dalam bidang yang diajar, memahami prinsip dasar dalam proses pembelajaran, mementingkan keberhasilan murid, bersikap adil, menjelaskan suatu hal dengan terperinci dan jelas, berpikiran terbuka, menyenangkan murid, menggunakan teknik dan metode pengajaran yang efektif, dan dapat menjaga jalannya proses pembelajaran dalam kelas. (Olivia &amp; Henson, 1980 dalam Jamilah, 2005).</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah saatnya pembelajaran efektif dikemukakan, efektif dan kreatif menjadi penghubung temu dengan interaktif secara positif. Suasana akrab dapat tumbuh, kondisi hangat dapat terus bertambah, serta apapun yang diurai serta dipaparkan oleh seorang guru tentu akan mendapat penerimaan penuh dari para murid. Menjadi guru interaktif adalah menjadi guru yang mampu meramu rencana, dan menyaji cara. Semua di dasarkan pada <em>instink</em> dan <em>feeling</em> guru tersebut dalam melakukan pola pikir bijaksana untuk dianalisa dan di kritisi oleh para siswa.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan harap, pola pikir kritis dapat hadir jika seorang guru tak bijaksana di depan para muridnya. Jangan harap pola pikir kritis dapat ada jika para guru masih bergaya menjemukan layaknya para penjaga kuburan dengan pacul dan sekop ditangan dan tugas yang tak pernah ada perubahan. Guru merupakan sosok multitalenta, banyak cerita dengan seduhan tawa, duka serta lara untuk memompa semangat juga inspirasi, dan banyak memberi makna bagi para siswa.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana Nabi Mengajarkan Sahabat</p>
<p style="text-align:justify;">Berbicara soal pembelajaran interaktif dan pola pikir, ada baiknya bila diakhir tulisan ini mengetengahkan bagaimana seorang Nabi Muhammad sebagai tokoh nomor satu paling berpengaruh di dunia memberikan pengajaran dan pembelajaran. Sejatinya apa yang beliau lakukan ialah berasal dari bimbingan wahyu. Sehingga perbuatan, ucapan, dan tindakan beliau adalah postulat mutlak yang tak membutuhkan aksioma untuk meruntuhkannya. Dalam pembahasan terakhir ini akan diketengahkan bagaimana sosok Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberikan pengajaran terhadap sahabatnya, yang semoga dapat menjadi <em>ibrah </em>(pelajaran) bagi kita yang hari ini ingin menyajikan pembelajaran interaktif dan penuh dengan asahan pola pikir kritis siswa.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau memberikan pengajaran sesuai dengan keadaan dan dengan siapa pelajaran itu diberikan, hal ini agar mendapatkan hasil yang baik dan dapat dipahami oleh setiap mereka yang menghadiri majelis Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>, seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah <em>radhiyallohu ‘anhu</em> tatkala para sahabat Nabi bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada Hari Kiamat?” Rasulullah bersabda, “Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat bulan di malam purnama?” Mereka (para sahabat) berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat matahari yang tidak tertutupi awan?” Mereka berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihatNya seperti yang demikian itu. Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat dan berfirman, ‘Barangsiapa yang menyembah sesuatu, maka hendaklah mengikutinya…-dan seterusnya-.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Ad Darimi).</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah pembelajaran yang dilakukan Rasulullah terhadap para sahabatnya, benar-benar menampilkan pola pengajaran penuh interaktif dan memberikan keleluasaan untuk mengajak para sahabat berfikir dan menggali lebih dalam wawasan yang mereka miliki. Nabi bukanlah sosok yang mudah untuk menyalahkan seseorang, akan tetapi beliaulah sosok yang justru senantiasa sabar membimbing dan mendampingi para sahabat-sahabatnya yang kala itu menjadi murid beliau. Hal tersebut pun ditiru oleh para sahabat tatkala mereka memberikan pengajaran kepada murid-murid mereka dikemudian hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu hadits Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menyajikan pola pikir kritis dari para sahabat selaku murid beliau serta menghadirkan pembelajaran interaktif adalah sebagaimana yang diketengahkan oleh hadits melalui jalur periwayatan Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar, dari Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “Di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya dan dia seperti orang Muslim, beritahukan kepadaku pohon apakah itu?” maka orang-orang langsung teringat kepada jenis pohon yang ada di pedalaman. Abdullah bin Umar berkaa, “Maka terbetik di hatiku bahwa pohon itu adalah kurma, namun aku merasa malu.” Kemudian mereka berkata, “Beritahukan kami pohon apa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Dia adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi).</p>
<p style="text-align:justify;">Tekhnik pembelajaran yang benar-benar memberikan hiburan dan mampu mengajak setiap orang yang hadir secara seksama menuangkan apa yang diketahuinya. Tidak memainkan satu peran pembelajaran, tapi komunikasi dua arah diketengahkan oleh Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sall</em>am dalam memberikan pelajaran bagi para muridnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode pembelajaran untuk memberikan nuansa interaktif dan mampu mengasah pola pikir kritis anak didik takkan terwujud bila setiap guru tidak memahami perencanaan, cara, dan hasil yang diinginkan dari pembelajaran yang dilakukan. Untuk menjadikannya demikian dibutuhkan pengajaran efektif serta kreatf sebagai bekal utama dan dilanjutkan dengan pengembangan model-model pembelajaran. Hal tersebut diupayakan agar mendapatkan hasil maksimal untuk kemajuan bangsa secara umum dan secara khusus menjadikan pendidikan lebih bermutu, berbudi, berkarakter, dan memiliki cita rasa tinggi. Kedepan dibutuhkan sebuah satuan standar mutu untuk menjadikan sosok guru bukan hanya ideal, akan tetapi idaman dengan berpijak pada dasar menyenangkan, menenangkan, dan memenangkan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://abuusamahrizki.wordpress.com/category/pendidikan/'>pendidikan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuusamahrizki.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuusamahrizki.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuusamahrizki.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuusamahrizki.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuusamahrizki.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuusamahrizki.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuusamahrizki.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuusamahrizki.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuusamahrizki.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuusamahrizki.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuusamahrizki.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuusamahrizki.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuusamahrizki.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuusamahrizki.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=236&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/11/27/guru-idaman-pendidikan-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSht4nF2h9da0tbObS0eqgNnw8t7TUjTxSo1Fl49yq4vZ8N3Tsp-g" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Memberi Makna Pada Pembelajaran Agama Bagi Penerus Nusa</title>
		<link>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/11/26/memberi-makna-pada-pembelajaran-agama-bagi-penerus-nusa/</link>
		<comments>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/11/26/memberi-makna-pada-pembelajaran-agama-bagi-penerus-nusa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 13:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuusamahrizki</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuusamahrizki.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Situasi di Indonesia beberapa dekade terakhir mengundang banyak keprihatinan dari berbagai pihak. Indonesia acapkali menjadi bahan pembicaraan di mata Internasional, bukan saja karena prestasinya, akan tetapi juga karena carut-marutnya kondisi sosial-politik di negara ini. Selain itu, didukung pula dengan keamanan yang dirasa sudah tak lagi kondusif. Munculnya fenomena disintegrasi bangsa, pudarnya semangat nasionalisme, tergesernya kerangka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=233&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center"><strong><img class="aligncenter" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQFgKTxoVtxTpaOpRdUFRbSpuOh22EUAMdYqzDPc_b7RQuDsGujVg" alt="" width="306" height="165" /><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Situasi di Indonesia beberapa dekade terakhir mengundang banyak keprihatinan dari berbagai pihak. Indonesia acapkali menjadi bahan pembicaraan di mata Internasional, bukan saja karena prestasinya, akan tetapi juga karena carut-marutnya kondisi sosial-politik di negara ini. Selain itu, didukung pula dengan keamanan yang dirasa sudah tak lagi kondusif. Munculnya fenomena disintegrasi bangsa, pudarnya semangat nasionalisme, tergesernya kerangka sosial-moral berlandaskan budaya, hingga fenomena radikalisme, dan fundamentalisme, yang kesemua itu dilakukan oleh para generasi pelanjut nusa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekerasan, seakan menjadi bahan pemberitaan yang tak pernah surut dari masa ke masa. Antar suku, agama, golongan, bahkan lebih miris lagi ialah antar pelajar. Sebagai sebuah institusi pendidikan, sekolah adalah rumah besar bagi sebuah orientasi kedamaian. Citra-citra rumah besar tersebut tidak bisa dilepaskan dari lingkungan dimana seseorang tumbuh dan berkembang mengecap manisnya perjalanan kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-233"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Agama seharusnya menjadi rumah menentramkan bagi pemeluknya, namun kini agama di eksploitasi menjadi barang multi kepentingan. Agama menjadi benda berdimensi banyak, sehingga pola pikir dan pola tafsir menjadi beragam, selaras dengan berkembangnya para penafsir-penafsir yang bukan ahlinya. Diperparah lagi, kini agama menjadi saran pencocokan aksi radikalisme ditubuh nusantara. Benih-benih radikalisme menjalar melalui medium agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam, sebagai agama mayoritas di negeri ini menjadi sasaran. Padahal jelas, Islam sama sekali tak pernah mengajarkan kekerasan, pemberontakan, bahkan Islam sejatinya adalah agama <em>rahmatan lil ‘alaamin</em>, agama menentramkan dan penuh kedamaian. Sebab memang itu yang ditegaskan oleh Allah <em>Ta’ala</em> tentang diri Muhammad <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> selaku utusan Allah, “<em>Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia</em>” (QS. Al Anbiya: 107).</p>
<p style="text-align:justify;">Aktor-aktor radikalisme mengintepretasikan Islam menjadi agama penuh ancaman, sehingga stigma Islam menjadi negatif di mata bangsa-bangsa dunia. Seakan apa yang mereka lakukan telah direstui oleh Islam. Padahal, sungguh Islam mengajarkan nilai-nilai ajaran kebaikan. Jauh dari kesan ancaman dan teror menakutkan seperti yang dilakukan oleh para aktor-aktor radikalisme. Bagaimana mungkin Islam mengajarkan kekerasan, sedangkan Nabi mereka, bersabda, <em>“Apabila salah seorang dari kalian bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah salam kepadanya. (Kemudian) jika pohon, tembok, atau batu menghalangi keduanya dan kemudian bertemu lagi maka salamlah juga padanya.”</em> (HR. Abu Dawud dalam As Sunan nomor 5200).</p>
<p style="text-align:justify;">Peranan institusi pendidikan menjadi sangat penting, sebab korbannya adalah anak-anak bangsa. Anak-anak muda dijadikan alat untuk menembus suksesi radikalisme sejalan dengan visi dan misi yang diinginkan oleh para aktor-aktor radikalisme. Ditinggalkannya ideologi dan filosofi Pancasila sebagai landasan kebhinekaan, lagi-lagi menjadi pelampiasan bahwa Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika serta sila-sila di dalamnya tak lagi selaras dengan nilai-nilai agama.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengembalikan Pemuda Kepada Pendidikan Penuh Makna</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang guru adalah pemimpin bagi muridnya, ia adalah panglima dan perancang strategi, oleh karena itu setiap guru memiliki senjata pamungkas dalam memasuki kelas, baik itu rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus pembelajaran dengan uraian kompetensi dasar, hingga buku untuk memastikan bahwa ia paham dan serius untuk menularkan ilmu. Ia tidak boleh masuk dengan tangan dalam keadaan hampa dan kebingungan harus melakukan apa. Ia harus datang dengan jutaan pengetahuan, ribuan pengalaman, dan uraian-uraian pembelajaran mengagumkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Proses transformasi ilmu pengetahuan yang paling utama dalam ranah pendidikan formal di Indonesia ditentukan oleh sejauhmana profesionalitas dan kualitas guru. Tanpa memiliki itu, maka seorang guru artinya harus siap untuk tidak mempunyai wibawa, siap untuk tak pernah dihargai nilai-nilai kebijaksanaannya, dan siap untuk ditinggalkan murid-muridnya dengan banyak alasan klasik. Dalam melakukan proses transformasi pembelajaran, seorang guru harus didukung dengan kecakapan skill dan karakter juga kompetensi yang kelak dapat diterapkan untuk melakukan proses pembelajaran di kelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem-sistem pembelajaran senantiasa datang silih berganti, baik itu dikembangkan oleh para ahli dari luar maupun dalam negeri, tak kurang pula Kementerian Pendidikan Nasional pun menaruh banyak perhatian untuk moda pengembangan setiap sistem pembelajaran agar pembangunan manusia di Indonesia lebih terarah dan tepat guna. Akan tetapi, kesemua itu ditentukan oleh pemain sederhana sebuah institusi pendidikan dengan episentrum luas, yakni seorang guru.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru tak ubahnya ladang ilmu, mereka sumur tak mengenal jemu untuk memancarkan air jernih dan segar bagi para pengambil ilmu dan para calon penemu. Sebaran-sebaran tanggungjawab yang dimiliki seorang guru tidaklah memiliki citraan kecil, akan tetapi sebaran yang diberikan oleh para guru adalah stigma berfikir luas. Sebab ditangan guru, luas dunia dapat menjadi sebuah ikhtisar dalam genggaman. Guru di Indonesia adalah sosok insan mulia. Sejarah mengenal bahwasanya guru tidak hanya sebagai aktor intelektual disaat hidup, sebab di saat wafat pun seorang guru mendapatkan penajukan hebat, yakni pahlawan tanpa tanda jasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Para pendidik wajib mengetengahkan pendidikan penuh makna untuk para siswanya, mereka mampu membangun karakter dan kepribadian serta jati diri anak-anak muda yang kian hari tergerus nilai-nilai moral dan sosial, sebagian diantara mereka kehilangan jatidiri. Lari kepada ekstrim kiri dengan dunia penuh hura-hura bahkan narkoba, atau lari kepada ekstrim kanan dan menjadi anak-anak binaan para fundamental belabel keagamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebanyakan institusi pendidikan hingga hari ini, masih mempertahankan bahwa nilai-nilai akademis adalah segalanya. Kebanggaan bila anak didiknya menjadi insan-insan cendikia dengan banyak beasiswa yang diterima menjadi sebuah kontras tersendiri. Namun, perhatian terhadap anak-anak muda dengan pola berfikir berbeda dari biasanya, anak-anak muda yang tak memiliki prestasi lebih baik dibanding penerima beasiswa, bahkan anak-anak muda dimana mereka sejatinya juga pantas untuk diperlakukan sama dengan para penerima beasiswa justru dipandang sebelah mata.</p>
<p style="text-align:justify;">Hingga akhirnya, mereka yang tak mampu memberikan ‘kebanggaan’ sesuai dengan kriteria gurunya, malah dianggap menjadi generasi tak berdaya guna. Begitu miris, bila potret pendidikan hanya diukur dengan biaya mahal, lalu prestasi membanggakan, hingga nilai akademis melampaui harapan. Justru tujuan pendidikan negeri ini untuk menghadirkan generasi bermartabat dan bertanggung jawab menjadi bias terhapus dengan satu tujuan pendidikan yakni insan-insan penuh kecerdasan tapi banyak dipertanyakan tanggung jawab serta keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab dekadensi moral hari ini dengan munculnya korupsi di berbagai lini, bukan dilakukan oleh insan-insan buta kecerdasan, akan tetapi para pelakunya justru mereka-mereka yang mengenyam pendidikan bahkan hingga tingkat tertinggi di negeri ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal sebagaimana yang diungkapkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada bab II pasal 2 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Sedang pada pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, guru yang hebat adalah guru yang mampu menangkap peran-peran hebat setiap siswa dalam proses pembelajaran, sebagaimana penuturan Thomas Ehlrich <em>“Great teachers have great expectations about what students can do. But they are careful to let students know what is expected of them. Students like the rest of us, want to be appreciated, and great teachers show a real interest in their students.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mendamba Guru Agama Paham Generasi Muda</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peran institusi pendidikan dalam hal ini sekolah, setidaknya dituntut optimal. Sekolah bukan hanya sebagai wadah pendidikan yang mengedepankan kemampuan berfikir secara kritis, akan tetapi dituntut untuk mampu membekali lulusannya dengan kemampuan analitis. Guru sebagai panglima dalam kelas adalah sahabat bagi siswa untuk memfasilitasi kemahiran siswa dalam berfikir analitis menghadapi keadaan bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika setiap guru mampu memahami kondisi dan keadaan bangsa diluar beban pekerjaan mereka yang memang patut untuk dimaklumi betapa banyaknya, ditambah lagi dengan beban keluarga yang ada dalam diri mereka sehari-hari. Tentulah setiap guru akan menerapkan fungsi kontrol secara optimal atas setiap anak muridnya. Namun hal ini mesti mendapat dukungan dan kemudahan dalam segi praktek. Sebab, sejauh ini slogan-slogan penentangan radikalisme tidak mengakar hingga dapat dipahami secara praktis oleh para pendidik. Padahal peran para pendidik sangat dibutuhkan dalam mendukung kemajuan pendidikan suatu bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan agama ditengah sekolah menjadi moda yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Sebab, generasi muda membutuhkan bimbingan dan arahan sesuai dengan tingkat kecerdasan masing-masing. Peranan guru agama di sekolah, tidak hanya aktif dalam kelas, akan tetapi arahan dan bimbingan mereka dibutuhkan di keseharian para anak didiknya. Suka atau tidak, kebutuhan setiap manusia terhadap nilai-nilai spiritual bukan hanya terjadi sepekan sekali, akan tetapi setiap hari. Terlebih, dalam satu sekolah memiliki jumlah masyarakat yang sangat banyak. Sehingga, sudah sewajarnya revitalisasi pendidikan keagamaan harus diimplementasikan dengan corak berkesinambungan. Bukan lagi hafalan dan tugas serta ulangan harian. Namun, pendidikan agama pun semestinya ditambah porsi pembelajarannya secara kontinu dengan menyisipkan nilai-nilai moral, etika, dan pemahaman dalam mengimplementasikan ajaran agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Peranan guru khususnya pada mata pelajaran agama Islam sangat besar pengaruhnya untuk mengajarkan kepada peserta didik bagaimana ber-Islam secara baik dan benar. Ber-Islam penuh dengan kedamaian dan senantiasa mengedepankan nilai-nilai kasih sayang. Ada beberapa hal yang harus menjadi catatan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran agama Islam ditengah para peserta didik.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Meningkatkan tingkat penguasaan iptek dari para guru agama Islam</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Hari ini para guru agama Islam baik yang dibawah kesejahteraan Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan Nasional diberbagai sekolah Indonesia memiliki porsi minimal terhadap penguasaan aksesori digital seperti internet dan berbagai macam aplikasi di dalamnya. Padahal banyak diantara peserta didiknya yang sudah melek akan teknologi informasi, diperparah lagi bahwa penyebaran ideologi-ideologi radikalisme dan terorisme sangat bertebaran disajikan di berbagai laman internet. Baik propaganda dari dalam negeri maupun dari luar negeri.</p>
<p style="text-align:justify;">Bentuk-bentuk propaganda tersebut sebagian memang sudah terbantahkan oleh mereka-mereka kaum muslimin yang peduli terhadap generasi bangsa, sehingga tak jarang propaganda tersebut menjadi lemah. Namun jumlahnya tidak banyak, ditambah lagi kebijakan penutupan website-website berideologi radikalisme dan terorisme melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika lebih banyak hanya didasarkan pada asumsi laporan masyarakat. Sehingga, peranan guru agama Islam untuk memahami penguasaan dan penggunaan internet serta konten-konten di dalamnya dapat menjadi penyaring bagi anak didiknya, guru dapat menjelaskan kepada anak didik bukan lagi secara teoritis bahwa terorisme dan radikalisme adalah tindakan terlarang, akan tetapi bila guru sudah paham penguasaan dan penggunaannya, apa yang disampaikan kepada murid sudah terimplikasi dalam bentuk contoh, penanganan secara praktis, dan ajakan menjauhi konten-konten tersebut disertai pembahasan lebih rinci.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal demikian bersesuaian dengan apa yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dari Malik bin al Huwairits <em>radhiyallohu ‘anhu</em>, “Kami pernah mendatangi Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan ketika itu kami adalah para pemuda sedang usia kami berdekatan. Lalu kami bermukim bersama beliau (di Madinah) selama dua puluh hari. Beliau <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang sangat lembut. Tatkala beliau melihat kami begitu menginginkan untuk bertemu keluarga kami, atau kami merindukan mereka, beliau pun menanyakan perihal keluarga yang kami tinggalkan, lalu kami menceritakannya. Nabi <em>shallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: ‘Kembalilah kepada keluarga kalian. Tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka, dan perintahkanlah mereka –dan beliau menuturkan beberapa perkara yang dapat aku hafal atau tidak dapat aku hafal- dan shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat. Jika waktu shalat tiba, hendaklah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan hendaklah orang yang paling tua diantara kalian menjadi imam kalian.’ (HR. Bukhari no 7246)</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits diatas menjelaskan tentang kemengertian beliau terhadap dunia anak muda, serta memahami apa yang anak muda pahami sesuai masanya dan memberikan pengarahan disertai dengan pembahasan secara rinci. Oleh karena itu, tidak bisa tidak, bagi seorang guru agama Islam dalam mengenal lebih dalam peserta didiknya, setidaknya ia mesti menguasai apa yang menjadi trend secara global terhadap peserta didiknya.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Hendaknya para guru agama Islam lebih pro-aktif dalam melihat kondisi anak didiknya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Selama ini memang pembelajaran agama Islam lebih dititik beratkan kepada hal yang bersifat normatif, namun tidak menyentuh sisi aplikatif. Guru agama Islam hanya mengajak, akan tetapi minim memberikan contoh. Padahal dari sekian banyak para pelaku radikalisme dan terorisme tak sedikit dari mereka disebabkan oleh dorongan sosial ekonomi yang lemah. Para guru pun sebaiknya memiliki kemampuan untuk memahami karakter psikologis siswa didiknya, agar ia mampu memberikan penilaian bila dijumpai karakter-karakter yang mengarah kepada bentuk-bentuk resistensi anak didiknya dalam pengajaran agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Penilaian terhadap karakter peserta didik diperlukan guna menemukan bagaimana pembelajaran tepat dapat diterapkan, sebab setiap manusia diciptakan dengan kondisi berbeda, sehingga dibutuhkan penguasaan berbeda pula dalam memahami pribadi-pribadinya. Tidak sama tentunya antara mereka yang berasal dari ekonomi lemah diajarkan dengan model pembelajaran seperti anak-anak orang berada. Mereka yang hidup di desa dan seakan terisolasi, tentunya tidak bisa diberikan pendidikan ala anak-anak kota, dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, sudah sepatutnya pemahaman terhadap karakter stiap anak didik menjadi poin yang patut diperhatikan. Betapa hebatnya pemaparan Augusto Cury (2003) yakni, beri kepribadian anak anda makanan kebijaksanaan dan ketenangan. Ceritakan petualangan anda, saat-saat kegalauan hati dan lembah emosi yang telah anda lalui. Jangan biarkan tanah memori anda menjadi pulau mimpi buruk; jadikan sebidang kebun yang diidamkan oleh merka. Ingatlah bahwa biasanya kita tersandung batu kecil, bukan sebuah gunung batu. Batu kecil ketidaksadaran ini dapat menjadi gunung besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Memahami kondisi siswa didik ini telah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, selaku guru besar pendidikan agama Islam di seluruh dunia. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya no 1145, “Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengutusku ke Yaman, aku berkata: ‘Bagaimana mungkin engkau akan mengutusku, sedangkan usiaku masih muda, dan aku tidak memiliki banyak pengetahuan mengenai masalah peradilan.’ ‘Ali melanjutkan ucapannya: “Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menepuk dadaku dan bersabda: ‘Pergilah, sesungguhnya Allah akan memantapkan lidahmu dan menunjuki hatimu.’” ‘Ali berkata:”Setelah itu, memutuskan perkara diantara dua orang bukanlah hal yang berat untukku.”</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ajarkan anak didik dengan teladan dan perbuatan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pembelajaran dengan teladan serta perbuatan dapat menjadi magnet penting bagi anak didik. Bahkan peribahasa mengatakan, <em>actions speaks louder</em>. Hal tersebut mengesankan secara jelas betapa contoh perbuatan dari seorang pengajar adalah hal penting untuk membantu mempertegas pelajaran yang diberikan. Imam Ibnu Abi Jamrah dalam Bahjatun Nufus jilid I hal 187 pernah mengatakan, “Mengajari dengan perbuatan dan contoh lebih mengena daripada ucapan semata.”</p>
<p style="text-align:justify;">Guru agama Islam dituntut untuk pro aktif dan memberikan porsi besar untuk peduli terhadap anak didiknya. Perhatian serta arahan disertai dengan teladan adalah contoh-contoh pengajaran yang dilakukan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhu oleh Imam An Nasa’i dalam Sunan-nya di jilid V no 269, ia berkata: “Pada pagi pelemparan Jumrah ‘Aqabah, Rasulullah berkata ketika beliau berada di atas kendaraan: ‘Pungut dan bawakan untukku.’ Lalu aku memungut beberapa batu kerikil untuk beliau gunakan melontar. Setelah itu, aku meletakkannya di tangan beliau, dan beliau mulai menggerak-gerakkan kerikil-kerikil yang ada di tangannya itu”</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berikan pembelajaran penuh inspirasi dan motivasi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sejauh ini pembelajaran agama Islam mendapat sorotan untuk melakukan revitalisasi dalam menghalau aksi kaderisasi radikalisme. Namun, seakan hal tersebut sulit dilakukan, mengingat pelajaran agama Islam yang diajarkan dibangku sekolah terlebih sekolah negeri dan sekolah swasta dengan standar nasional hanya memiliki pelajaran agama Islam tidak lebih dari 4 jam setiap pekan. Kalah dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran umum lainnya. Namun apabila seorang guru pandai memainkan perannya ketika pembelajaran berlangsung. Sewajarnya guru dapat menyuguhkan pelajaran dinamis dan memiliki nuansa penuh inspirasi dan motivasi dengan bahasa mudah dimengerti. Ia dapat mendesain pembelajaran agama Islam untuk tak lagi dianggap sebagai pelajaran membosankan dan pelengkap jadwal mata pelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelajaran agama Islam mampu unggul ditengah pelajaran umum lainnya, walaupun hari ini indikator keluhuran agama dan budi pekerti seseorang sudah jarang menggunakan standar nilai akademis. Berbeda halnya dengan dahulu, dimana pelajaran agama menjadi primadona. Hari ini justru orangtua murid lebih khawatir bila nilai matematika mendapatkan 5 dibandingkan nilai pelajaran agama Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembelajaran penuh inspirasi dan motivasi dapat memberikan semangat dan pengaruh positif bagi peserta didik. Jika guru menyampaikan secara seru, mengagumkan, penuh ekspresi, dan tentunya dengan luapan energi dan wawasan yang selalu dinanti murid. Kelak transformasi Islam dengan wajah dan rona damai akan sangat mendapatkan penerimaan serta membekas di hati siswa. Tentu kelak siswa tak segan lagi apabila mengutip ucapan guru agamanya di tahun-tahun mendatang kala ia tak lagi berseragam.</p>
<p style="text-align:justify;">Model pembelajaran tersebut telah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ada seorang laki-laki mendatangi beliau dan berkata: ‘Aku tidak dapat menghafal Al Qur’an sedikit pun, karenanya ajarkanlah aku bacaan yang dapat menggantikannya.’ Lalu beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Bacalah, subhanallahi, walhamdulillahi, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billahi ‘aliyyil adzhim.’ Lantas orang itu berkata:’Wahai Rasulullah, bacaan ini untuk Allah, lalu apa untukku?’ Beliau menjawab: ‘Bacalah: Allahumma arhamni wardzuqnii wahdinii.’ Tatkala orang itu berdiri, dia berisyarat dengan tangannya (kedua tangannya) seperti ini (bahwa ia menyampaikan telah menghafal kalimat tersebut). Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Kedua tangan orang itu telah dipenuhi dengan kebaikan.’</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah pembelajaran mengagumkan, seorang guru agama tidak lagi mencari alas an akan kurangnya jam mengajar yang ia dapatkan, selama ia mampu mengemasnya dengan atraktif serta membekas dalam dada muridnya. Kelak kenangan dan pelajaran akan selamanya tersimpan dalam sanubari. Demi pembelajaran agama yang rahmatan lil ‘alaamin.</p>
<p style="text-align:justify;">Proses pembelajaran agama Islam menjadi garda terdepan untuk menghalau aksi radikalisme bila disampaikan secara tepat. Fasilitas yang memadai selain dari kesejahteraan yang telah ditingkatkan juga menjadi hal istimewa bila pemangku kepentingan bersungguh-sungguh dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Para guru agama Islam, suka atau tidak, mereka juga adalah para dai atau penyeru kebaikan ditengah masyarakatnya. Bukan di sekolah saja, sebab stigma masyarakat berkembang bahwa para pendidik agama Islam adalah sekaligus juru dakwah ditengah komunitas masyarakat Islam. Etika dan moral patut untuk dikedepankan bagi mereka para pendidik agama Islam, sebab kelak mereka adalah contoh yang tidak hanya diambil ucapannya, akan tetapi ditiru pula perbuatannya. Jika akhlak dan kecerdasan telah berpadu dengan kepekaan sosial, bukan tidak mungkin guru agama Islam dapat menjadi agen misi penebar ajaran Islam lebih sopan, tertib, indah, dan damai. Semoga.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://abuusamahrizki.wordpress.com/category/pendidikan/'>pendidikan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuusamahrizki.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuusamahrizki.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuusamahrizki.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuusamahrizki.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuusamahrizki.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuusamahrizki.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuusamahrizki.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuusamahrizki.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuusamahrizki.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuusamahrizki.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuusamahrizki.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuusamahrizki.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuusamahrizki.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuusamahrizki.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=233&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/11/26/memberi-makna-pada-pembelajaran-agama-bagi-penerus-nusa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQFgKTxoVtxTpaOpRdUFRbSpuOh22EUAMdYqzDPc_b7RQuDsGujVg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Penerapan Nilai Toleransi Demi Terwujudnya Pendidikan Persatuan</title>
		<link>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/31/penerapan-nilai-toleransi-demi-terwujudnya-pendidikan-persatuan/</link>
		<comments>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/31/penerapan-nilai-toleransi-demi-terwujudnya-pendidikan-persatuan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 13:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuusamahrizki</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuusamahrizki.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan adalah sebuah instrumen kesadaran. Substansi pendidikan ialah transformasi pengetahuan dari ketidaktahuan menjadi paham atau bahkan profesional, sehingga dengan demikian pembelajaran dalam sebuah elemen pendidikan merupakan suatu aktifitas membangun kesadaran dan sebuah gerakan untuk menggali potensi atas nilai-nilai kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu upaya-upaya normatif untuk melepas banyak hal negatif dari dalam diri seseorang kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=229&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQaMt5EoJu32HmfvZKQri2hxiPnDwR16geX-NwxxhnOyZHeKZsfhQ" alt="" width="259" height="194" /></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan adalah sebuah instrumen kesadaran. Substansi pendidikan ialah transformasi pengetahuan dari ketidaktahuan menjadi paham atau bahkan profesional, sehingga dengan demikian pembelajaran dalam sebuah elemen pendidikan merupakan suatu aktifitas membangun kesadaran dan sebuah gerakan untuk menggali potensi atas nilai-nilai kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu upaya-upaya normatif untuk melepas banyak hal negatif dari dalam diri seseorang kepada seseorang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara lugas pendidikan adalah mencetak sosok bermartabat, memiliki harga diri, serta kemuliaan. Hal itulah yang dimaksudkan oleh Paulo Fraire yang dikutip oleh Firdaus M. Yunus, pendidikan adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan sampai kepada ketertinggalan. Bagi Fraire pula, oleh karena manusia yang menjadi pusat pendidikan, maka manusia harus menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang bermartabat. (Yunus: 2004).</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-229"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di Indonesia, pendidikan menjadi sebuah kebutuhan, sebuah penentu keberhasilan, dan secara umum pendidikan mampu mencitrakan sejauhmana karakteristik kepribadian individu. Bahkan pendidikan menjadi salah satu indikator berfikir seseorang. Pendidikan  membutuhkan  upaya timbal balik dan respon berbalas. Sebab pendidikan tidak hanya bersandar pada sebuah paradigma keilmuan, akan tetapi juga harus memiliki praksis pengamalan dan implementasi secara berkelanjutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Definisi pendidikan secara sepakat sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, yakni, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai-nilai pendidikan luhur itu sendiri haruslah merujuk kepada nilai-nilai kebhinekaan sebab Indonesia merupakan  sebuah negara yang besar di mata dunia dengan berbagai macam suku bangsa serta adat budaya. Indonesia memiliki keanekaragaman suku, ras, dan agama pula. Sehingga pendidikan di Indonesia harus diterapkan sesuai dengan corak demografis dan topografis negara ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan sesuai dengan apa yang di definiskan oleh pemerintah sebagaimana UU No. 20 Tahun 2003 SISDIKNAS diatas adalah pendidikan dengan tujuan berkualitas dan perlu bagi masyarakat, bangsa dan negara. Terlebih hari ini, Indonesia diliputi oleh krisis multidimensi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mewujudkan Pembelajaran Bertoleran</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai macam keadaan sosial dan kejadian alam di Indonesia, menuntut generasi-generasi yang mampu merawat dan memajukan hasil pembangunan bangsa Indonesia yang telah dicapai hingga saat ini. Bangsa ini membutuhkan generasi-generasi yang memiliki kompetensi bukan hanya mampu menciptakan dan membangun, namun mampu untuk merawat, mempertahankan, dan mengembangkan penciptaan yang bermanfaat, mensejahterakan rakyat, serta muatan positif yang sangat diperlukan untuk berkembangnya suatu bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Generasi-generasi tersebut harus matang dan memiliki rasa persaudaraan yang kokoh satu sama lain. Sebab, sebuah pembangunan membutuhkan sebuah persatuan, dan setiap persatuan menuntut adanya toleransi diatas setiap perbedaan yang ada. Pendidikan adalah wujud fasilitas untuk menjembatani perbedaan-perbedaan yang ada menjadi sebuah kekuatan dan ketahanan untuk menyatukan perbedaan, dalam sebuah bingkai toleransi.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, dibutuhkan pula elemen-elemen pendidikan yang sadar akan adanya sebuah perbedaan. Elemen pendidikan yang paling asasi adalah kehadiran seorang pengajar. Dalam realitanya, seorang pengajar dituntut untuk mampu menjadi sebuah pusat pengembangan potensi setiap anak didiknya. Pendidikan masa kini ialah pendidikan yang menuntut seorang pengajar memberi porsi besar sebagai fasilitator, bahkan sebagai inspirator dan motivator, bukan hanya sebagai diktator otoritarian dalam sistem pembelajaran yang menyebabkan peserta didik tertekan dan tidak bisa memiliki kekuatan untuk unjuk kecerdasan yang dimiliki.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru-guru dengan kemampuan interpersonal yang baik serta memiliki kesesuaian latar belakang kompetensi, sangat mungkin untuk memberikan perhatian dan pengaruh kepada siswanya sehingga pembelajaran dapat hidup, dan setiap anak didik memiliki kesempatan untuk melihat sebuah pendidikan dari berbagai sisi. Bukan hanya soal nilai akademis, keluhuran etika, kelurusan moral, akan tetapi kesadaran untuk mentoleransi sebuah nilai-nilai perbedaan dalam suatu ranah pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mewujudkan pendidikan yang peka dan toleran, setidaknya dibutuhkan beberapa poin-poin yang dapat dilakukan sebagai wujud acuan seorang pengajar. Poin-poin tersebut kelak bila diimplementasikan dengan bijak, akan mampu meretas persoalan-persoalan kebangsaan dalam sekup sederhana yang dimulai dari generasi tunas bangsa. Beberapa poin yang dapat diperhatikan antara lain;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, seorang pendidik haruslah sosok yang memiliki semangat dan keinginan untuk senantiasa belajar. Seorang guru harus menjadi inisiator pembelajaran yang optimal dan mampu memberikan pembelajaran lagi mudah diterapkan bagi para muridnya. Hal demikian, tidak bisa di dapatkan melainkan dengan banyaknya pembelajaran-pembelajaran dari aktifitas kehidupan dan pengalaman. Wawasan menjadi bagian penting, agar pola pembelajaran kepada murid tidak hanya selalu dibatasi atas bingkai persepsi nilai akademis. Dengan adanya wawasan guru yang senantiasa di optimalisasi, tentu akan meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, serta psikomotorik anak didik. Guru dengan wawasan melimpah ruah tentunya akan menjadi sebuah pilihan atas ketenangan dan kenyamanan bagi setiap anak didik untuk mencurahkan berbagai bentuk apresiasi yang dimilikinya. Sehingga, guru yang demikian tidak hanya didatangi oleh peserta didik di waktu tertentu, akan tetapi menjadi guru yang perlu ada serta senantiasa dinanti kehadirannya oleh anak didik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, seorang pendidik dalam hal ini ialah guru, dituntut untuk memiliki kepekaan. Bukan hanya kepekaan secara psikologis, akan tetapi kepekaan secara sosiologis. Seorang guru adalah agen perubahan, sebab tidak ada kata yang diucapkan guru, melainkan senantiasa membekas dalam setiap anak didik serta mempengaruhi perasaan dan perkembangan anak didik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepekaan secara psikologis bagi seorang guru ialah mengetahui dan memahami kompetensi individual dalam diri seorang anak, baik dari sisi karakter, kemampuan diri, potensi imajinasi, daya kreasi, reaksi psikomotori atau kognisi dengan berbagai aspeknya seperti visualisasi, auditori maupun kinestesi. Sedangkan kepekaan sosiologis dapat diterjemahkan sebagai kemampuan seorang guru untuk melakukan identifikasi kehidupan sosial setiap anak didik. Hal ini penting, mengingat para peserta didik berasal dari banyak latar belakang yang berbeda, mereka dibentuk dengan budaya dan agama yang memiliki tingkat perbedaan satu sama lain. Sehingga sebagai sebuah agen pendorong toleransi dalam kehidupan dan moda kebhinekaan di Indonesia, sosok guru menjadi sosok tumpuan untuk mampu memberikan segala bentuk konfirmasi dan informasi untuk melakukan perwujudan pembelajaran yang saling toleran dan tidak diskriminan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga, seorang guru sangat dituntut untuk memberikan nilai seimbang dan tidak membedakan dalam hal pemberian penghargaan atas peserta didiknya. Hal ini dibutuhkan, sebab sebuah toleransi harus mampu melibatkan sisi objektifitas dalam penilaian individu secara baik dan berkesinambungan. Objektifitas seorang guru akan senantiasa dilihat oleh setiap muridnya, terlebih pada tingkat jenjang pendidikan dasar yang di wajibkan oleh pemerintah. Seorang peserta didik sangat mudah menilai apakah gurunya berat sebelah dalam memperlakukan teman-temannya, tidak adil dalam memberikan hukuman atau penghargaan, serta wujud-wujud diskriminatif lainnya. Penilaian tersebut apabila telah dilakukan oleh seorang murid akan menimbulkan nilai sensitifitas tersendiri dan mencuatkan stigma negatif diantara sesama murid. Sehingga tidak bisa tidak, sebuah konflik dalam pertemanan di sebuah sekolah bisa menjadi masalah tersendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat, sebagai agen perubahan yang dituntut untuk menjadikan para generasi muda memiliki nilai toleransi ialah nilai-nilai penghormatan dan menghargai. Hal ini ada agar terwujud sebuah resolusi kedamaian dalam sekup sederhana yakni di sebuah instansi pendidikan. Apabila seorang guru mampu menjaga dirinya dan menghargai perbedaan yang dimiliki oleh setiap muridnya, kelak setiap siswa akan memiliki nilai toleransi secara sama atau bahkan lebih baik dibanding gurunya. Jika seorang guru dapat membekali dirinya, maka kelak ucapan-ucapan sindiran yang keluar dari lisannya dapat dikendalikan. Sehingga guru tidak mudah mengucapkan kepada siswa yang memiliki warna kulit hitam dengan ucapan, <em>“hei kamu si papua..”</em> atau menghardik siswanya dengan ras tertentu seperti, <em>“dasar kamu orang cina..!”</em>, maupun sindiran-sindiran lainnya yang melunturkan nilai-nilai kebangsaan serta disintegrasi sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab, tidaklah ucapan-ucapan sindiran sesama teman sebaya lahir jika tidak ada contoh yang mendahului.contoh-contoh tersebut, bisa jadi lingkungan tempat tinggal, atau pun keluarga. Maka guru harus mampu memberikan klarifikasi demi menjaga sebuah persatuan dan kesatuan, hal demikian tak akan terwujud jika gurunya sendiri mengajarkan muridnya bermudah-mudahan mencela ras atau golongan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelima, seorang guru harus mengedepankan semangat kebangsaan dan menanamkan kecintaan kepada tanah air. Hal ini tidak mesti menunggu pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau Ilmu Pengetahuan Sosial. Pembelajaran kebangsaan dan semangat kecintaan dapat dihadirkan ditengah atmosfer murid melalui komunikasi-komunikasi atau dialog-dialog yang dapat memunculkan daya pikir kritis siswa. Seperti seorang guru melontarkan isu-isu kebangsaan, lantas murid membentuk kelompok diskusi dan mengkaji permasalahan tersebut sesuai dengan konteks budaya dan lingkungan yang ada. Pembelajaran model ini dapat dikaitkan dengan pelajaran apapun, bahkan pada pelajaran eksakta, para siswa dapat dibawa untuk menanamkan nilai semangat kebangsaan dengan menumbuhkan nilai-nilai toleransi menghargai pendapat satu siswa dengan siswa lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah beberapa hal yang menjadikan guru setidaknya mampu melakukan sebuah inisiasi perubahan dalam mewujudkan generasi Indonesia penuh toleransi. Toleransi hadir untuk mewujudkan kebersamaan dan diharapkan menjadi faktor utama terwujudnya Indonesia yang lebih maju dan berkembang. Dalam sebuah ranah sederhana, toleransi muncul tidak hanya memiliki cakupan luas, akan tetapi toleransi dalam menghargai setiap hak bicara dan hak pendapat setiap warga negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Para pelajar adalah generasi pelanjut masa datang, dibutuhkan arahan dan penyampaian persepsi secara teratur dan tepat sasaran. Sikap, perilaku, perbuatan, dan penyampaian yang diberikan pun harus sesuai masanya. Guru adalah bagian dari pelaku pendorong perubahan. Tidak hanya sekedar kesejahteraan yang sesuai untuk mereka dapatkan, tapi pembelajaran dan pengembangan karakter profesionalitas guru menjadi faktor tak kalah penting demi terwujudnya transformasi pendidikan penuh harapan. Pemerintah telah memberikan alokasi perhatian secara baik kepada pendidikan di Indonesia, anggaran yang telah dinaikkan menjadi 20% serta pemenuhan pemerataan kesejahteraan guru dengan tanpa melihat status kepegawaian, merupakan sebuah dukungan moril dan realistis dari pemerintah. Hanya saja, hal tersebut wajib untuk dikontrol baik dari sisi konsepsi maupun sisi aplikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah perubahan membutuhkan para agen-agen untuk merealisasikannya, sudah saatnya anak-anak bangsa memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk kembali memikirkan bangsa ini dengan perbuatan nyata. Tentunya, hal tersebut tidak cukup apabila mengandalkan sosok guru dengan segala keterbatasan yang mungkin dimiliki oleh mereka. Perubahan menuju negeri toleran adalah proses panjang dan bukan hanya cukup dengan wacana-wacana perbincangan. Wacana, ide, dan gagasan tersebut harus dijabarkan dengan konsep matang dan terintegrasi dengan wawasan kebangsaan yang dimiliki secara variatif oleh orang-perorang di Indonesia. Sebuah perubahan membutuhkan kerjasama dan persatuan dengan menghargai nilai-nilai perbedaan yang ada demi sebuah tujuan dan prioritas lebih besar, seperti yang dipaparkan oleh Williams, Woodward &amp; Dobson (2002), ”Perubahan biasanya tidak bisa berjalan tanpa adanya kerjasama dari semua pihak”.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kedepan, Indonesia menjadi maju dan dapat bersaing dengan terwujudnya persatuan serta kesatuan bangsa secara kongkrit. Mengembalikan kejayaan yang pernah diraih dengan kebersamaan sebagai satu bagian tubuh dibawah keragaman suku, ras, agama, dan adat istiadat.</p>
<br />Filed under: <a href='http://abuusamahrizki.wordpress.com/category/pendidikan/'>pendidikan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuusamahrizki.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuusamahrizki.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuusamahrizki.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuusamahrizki.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuusamahrizki.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuusamahrizki.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuusamahrizki.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuusamahrizki.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuusamahrizki.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuusamahrizki.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuusamahrizki.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuusamahrizki.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuusamahrizki.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuusamahrizki.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=229&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/31/penerapan-nilai-toleransi-demi-terwujudnya-pendidikan-persatuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQaMt5EoJu32HmfvZKQri2hxiPnDwR16geX-NwxxhnOyZHeKZsfhQ" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sekalipun Awalnya Keterpaksaan</title>
		<link>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/30/sekalipun-awalnya-keterpaksaan/</link>
		<comments>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/30/sekalipun-awalnya-keterpaksaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 06:31:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuusamahrizki</dc:creator>
				<category><![CDATA[tazkiyatun nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuusamahrizki.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak hal yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan hidayah kedalam dirinya secara umum. Memang selalu ada saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjalanan orang-orang sebelum kita. Tentang romansa cinta, jejak kebahagiaan, ataupun semangat-semangat menyala penuh keberanian. Semestinya kisah-kisah tersebut dapat menjadi kaca spion terbaik bagi diri kita. Untuk menyamaratakan bahwa bukan kali ini kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=225&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter" src="http://tetapbergerak.files.wordpress.com/2009/06/sujud.jpg?w=320&#038;h=285" alt="" width="320" height="285" />Ada banyak hal yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan hidayah kedalam dirinya secara umum. Memang selalu ada saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjalanan orang-orang sebelum kita. Tentang romansa cinta, jejak kebahagiaan, ataupun semangat-semangat menyala penuh keberanian. Semestinya kisah-kisah tersebut dapat menjadi kaca spion terbaik bagi diri kita. Untuk menyamaratakan bahwa bukan kali ini kita saja yang berbahagia ataupun yang nelangsa.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-225"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Sufyan, ketika situasi tidak memungkinkan dirinya untuk berbuat banyak demi menghancurkan Islam pupus, ketika makar Darun Nadwah dan persekongkolan penuh konspirasinya hilang hangus, ketika ia lolos dari terbunuhnya di tangan seorang kaum muslimin yang menjadikan dirinya tidak bisa mengikuti jejak Abu Jahl kawan satu levelnya, ketika pergulatan batinnya untuk membungkam Muhammad musuh nomor wahidnya tak tembus. Allah Maha Berkehendak atas dirinya. Fathu Makkah menjadi saksi bahwa segala yang Allah kehendaki terjadi maka akan terjadi atas izin Allah Ta’ala. Keterjadian yang juga pernah dirasakan oleh Abu Hafsh Umar bin Khattab.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Abwa’ sebelum memasuki Makkah, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan Abdullah bin Abi Umayyah dan Ibnu Harits. Namun beliau berpaling dari mereka berdua mengingat betapa hebatnya, betapa sengitnya, betapa kerasnya permusuhan dan kejahatan yang mereka lakukan dari masa ke masa, darah ke darah, dan perang ke perang kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam serta kaum muslimin. Namun Ummu Salamah berkata kepada beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam: “janganlah sampai putra paman dan bibi anda menjadi orang yang celaka karena anda.”</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah beliau sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah, beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan. Beliau juga mengangkat Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> sebagai penjaga.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam itu, Abbas berangkat menuju Makkah dengan menaiki bighal (peranakan kuda dan keledai) milik Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau mencari penduduk Makkah agar mereka keluar menemui Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan meminta jaminan keamanan, sehingga tidak terjadi peperangan di negeri Makkah. Tiba-tiba Abbas mendengar suara Abu Sufyan dan Budail bin Zarqa’ yang sedang berbincang-bincang tentang api unggun yang besar tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ada apa dengan dirimu, wahai Abbas?” tanya Abu Sufyan</p>
<p style="text-align:justify;">“Itu Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> di tengah-tengah orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy. Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung bighal ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, lalu meminta jaminan keamanan kepada beliau!” jawab Abbas.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, Abu Sufyan pun naik di belakangku. Kami pun menuju tempat Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Ketika melewati obornya Umar bin Khattab, dia pun melihat Abu Sufyan. Dia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;">“Wahai Abu Sufyan, musuh Allah, segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian-pun. Karena khawatir, Abbas mempercepat langkah bighalnya agar dapat mendahului Umar. Mereka pun langsung masuk ke tempat Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu, barulah Umar masuk sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Abbas pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda, “Kembalilah ke kemahmu wahai Abbas! Besok pagi, datanglah ke sini!”</p>
<p style="text-align:justify;">Esok harinya, Abbas bersama Abu Sufyan menemui Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau bersabda,”Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?”</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Sufyan mengatakan,“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan selain Allah, tentu aku tidak membutuhkan sesuatu apa pun setelah ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda,”Celaka kamu wahai Abu Sufyan, bukankah sudah saatnya kamu mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?”</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Sufyan menjawab,”Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Abbas menyela, “Celaka kau! Masuklah Islam! Bersaksilah laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!” Akhirnya Abu Sufyan-pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah. Sebelum berangkat, beliau memerintahkan Abbas untuk mengajak Abu Sufyan menuju jalan tembus melewati gunung, berdiam di sana hingga semua pasukan Allah lewat di sana. Dengan begitu, Abu Sufyan bisa melihat semua pasukan kaum muslimin. Maka Abbas dan Abu Sufyan melewati beberapa kabilah yang ikut gabung bersama pasukan kaum muslimin. Masing-masing kabilah membawa bendera. Setiap kali melewati satu kabilah, Abu Sufyan selalu bertanya kepada Abbas, “Kabilah apa ini?” dan setiap kali dijawab oleh Abbas, Abu Sufyan senantiasa berkomentar, “Aku tidak ada urusan dengan bani Fulan.” Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?”</p>
<p style="text-align:justify;">Abbas menjawab: “Itu adalah Rasulullah bersama muhajirin dan anshar.” Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.”</p>
<p style="text-align:justify;">Abbas berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah Nubuwah.” Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata, “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ketemu Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, perkataan Sa’ad ini disampaikan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau pun menjawab, “Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memerintahkan agar bendera di tangan Sa’d diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata bendera itu tetap di tangan Sa’d. Ada yang mengatakan bendera tersebut diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sana Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’ beliau kepada Sang Pengatur alam semesta. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:</p>
<p style="text-align:justify;"><em> “Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”</em> (Qs. Al Fath: 1)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah, “Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:</p>
<p style="text-align:justify;"><em> “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”</em> (Qs. Al-Isra’: 81)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.”</em> (Qs. Saba’: 49)</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memasuki Ka’bah. Beliau melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah ramalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu keputusan beliau <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Merekapun menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Sufyan: “Datangilah Rasulullah dari depan. Berkatalah kepadanya seperti perkataan-perkataan saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alayhis salam: “Mereka berkata: “Demi Allah, Sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas Kami, dan Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. (QS. Yusuf : 91). Maka Abu Sufyan pun melakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ (QS. Yusuf : 92) Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu Abu Sufyan pun melantunkan syairnya penuh makna:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Demi umurmu, sungguh ketika aku membawa bendera</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Agar prajurit Latta mengalahkan tentara Muhammad</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bagai orang Mudlij yang kebingungan diselimutiu kegelapan malam</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Inilah waktuku ketika hidayah dating lalu aku menyambutnya</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku diberi hidayah oleh Haadi (Sang Pemberi Hidayah) bukan diriku, dan aku ditunjuki</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kepada Allah, oleh dia yang dahulu kuusir dengan sebenar-benarnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar hal ini, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menepuk dadanya sambil berkata: “Engkaulah yang telah mengusirku dengan sebenar-benarnya.” Sejak saat itulah Nabi mendoakan Abu Sufyan “Saya berharap dia bisa menjadi pengganti Hamzah -<em>radhiyallahu ‘anhu</em>-” dan menjadi baiklah sang arsitek penghancur ketika kafirnya menjadi sang pembela Allah beserta Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam. Bahkan ketika wafatnya, Abu Sufyan berpesan pada keluarganya: “Janganlah kalian tangisi aku, karena demi Allah! Aku tidak pernah berbuat dosa sejak aku masuk Islam.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Begitulah Sapaan Hidayah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah sapaan hidayah, kala kemusykilan dihapus oleh cahaya kebenaran dan keimanan. Berawal dari situasi yang tak ada pilihan lain selain mengambil hidayah tersebut, menjadi akhir dari sebuah jawaban yang indah untuk sosok terjahat sekalipun. Yakinlah, terkadang anggapan buruk yang tersematkan pada seseorang yang dibenci bisa menjadi sebuah jalan betapa jika Allah telah berkehendak atas sesuatu menjadi mudah terbalik segalanya. Tak masuk akal memang. Namun kenyataan terkadang berbicara lain dari apa yang direncanakan. Sejarah telah mencatat bagaimana manusia-manusia terjahat menamatkan riwayatnya dengan bejana kebaikan dan janji surga, sejarah Islam telah terpenuhi dengan sosok-sosok Umar bin Khattab serta Abu Sufyan yang keburukannya terhapus oleh doa Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam. Maka begitulah hidayah, adakalanya suatu keterpaksaan menjadi sebuah keindahan, dan sebuah kebencian ditutup oleh haru kebahagiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka sudah sepantasnyalah sosok-sosok yang mengerti hari-hari ini untuk mengajak dengan penuh kesabaran dan doa-doa terpanjatkan penuh keihlasan atas apa yang diharapkan dari yang dicinta. Kala orang tua belum memahami Islam dengan sebaik-baiknya, kala suami atau istri tercinta masih jauh dari apa yang diharapkan atas keimanannya, kala anak menjauh dari perencanaan kehidupan beragama, atau kala diri sendiri merasa gersang dengan aktivitas. Tak hanya sekedar untuk merenungi realita di depan mata akan kebobrokan suatu masa, tapi mencoba bergerak dengan perlahan dan punya tujuan pasti. Setiap orang memiliki fitrah yang condong kepada kebaikan. Ajaklah dengan usaha dan kemampuan yang dimiliki, “Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah (Kebaikan) maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan pahala tersebut tidak kurang sama sekali. “ (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Yakinlah, bahwa setiap usaha akan mendapatkan hasil, dan terkadang usaha itu membutuhkan waktu yang lama. “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.” (QS. Al Kahfi : 30)</p>
<p style="text-align:justify;">Pelajaran tadi telah menjadi bukti kerasnya hati Abu Sufyan dapat takluk dengan kelembutan usaha-usaha orang-orang yang sabar disekitarnya, disana ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib dan Ali bin Abi Thalib. Sekali lagi, perubahan selalu membutuhkan bimbingan, dan setiap perubahan selalu memiliki hajat atas kesabaran. Sekeras batu yang terkikis oleh air.</p>
<br />Filed under: <a href='http://abuusamahrizki.wordpress.com/category/tazkiyatun-nafs/'>tazkiyatun nafs</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuusamahrizki.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuusamahrizki.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuusamahrizki.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuusamahrizki.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuusamahrizki.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuusamahrizki.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuusamahrizki.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuusamahrizki.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuusamahrizki.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuusamahrizki.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuusamahrizki.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuusamahrizki.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuusamahrizki.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuusamahrizki.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=225&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/30/sekalipun-awalnya-keterpaksaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tetapbergerak.files.wordpress.com/2009/06/sujud.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Karena Ia, Kita Berharga</title>
		<link>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/26/karena-ia-kita-berharga/</link>
		<comments>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/26/karena-ia-kita-berharga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 06:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuusamahrizki</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuusamahrizki.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau, “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”. Dan Rosululloh menjawab, “Ibumu…”. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, “Siapa lagi ya Rosul?”. Rosul menjawab, “Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”. “Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=219&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQnh8iM6dlvHJKXOIxZXCi0MqMRbvDUwqAkQQekygeuztyJZ5NQkSNiWA" alt="" width="202" height="203" /></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau,<em> “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”</em>. Dan Rosululloh menjawab, <em>“Ibumu…”</em>. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, <em>“Siapa lagi ya Rosul?”</em>. Rosul menjawab, <em>“Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”</em>. “<em>Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan kemudian saudara-saudarmu…”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibu..Bunda..Mama..Emak..Ummi… Siapapun kita memanggilnya…mereka adalah pahlawan kita!! Dan sungguh.. Islam telah memuliakan seorang wanita tangguh bernama ibu..yang namanya telah disebutkan oleh Rosulullah Shallallohu’Alaihi Wassalam dalam hadist tersebut diatas…</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu…. Tak pernah terhitung, berapa kali nama itu (dan penyebutan lainnya) disebut, dalam hitungan detik, menit, jam bahkan hari diseluruh sudut bumi ini. Nama yang menetramkan setiap kali disebut manakala hati dan jiwa kita merasa galau.. Nama yang membuat rindu manakala kita jauh darinya…. Nama yang akan selalu ada dan tinggal di hati kita….</p>
<p style="text-align:justify;">Wajahnya yang teduh..suara yang lembut…sentuhan yang menghangatkan…nasehat yang menguatkan…dan senyuman yang menenangkan…. Sungguh… semua yang ada didalam diri beliau tidak akan pernah tergantikan oleh sosok manusia manapun atau bahkan tambatan hati kita sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-219"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh.. Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bentuk kesempurnannya adalah dengan adanya pengaturan bagaimana seorang anak bermuamalah dengan kedua orangtuanya. Berbakti, mengabdi, dan berbuat baik kepada mereka berdua adalah suatu kewajiban yang mungkin saat ini telah luntur dalam ingatan anak-anak atau bahkan telah dilupakan seiring kemajuan jaman??</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ingatlah firman ALLOH di dalam surat Luqman ayat 14 :</p>
<p style="text-align:justify;">“ <em>Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya</em>…..”</p>
<p style="text-align:justify;">ALLOH Azza Wa’Jalla telah memberitakan  secara jelas dan tegas bahwa setiap manusia pada umumnya, dan setiap anak pada khususnya wajib berbuat baik kepada setiap orangtua, kepada ibu-bapak mereka. Adapun kewajiban berbuat baik disini adalah meliputi semua perkara-perkara kebaikan baik ucapan maupun perbuatan secara maknai maupun nyata (Birul Walidain). Dan tentunya, kewajiban dalam perkara ini tidak bertentangan dengan perintah ALLOH.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun hadist yang menjelaskan bagaimana kedudukan dan keutamaan  birul walidain yakni, Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallohu’anhu, Rasululloh Shallallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya, <em>“ya Rosul..Amalan apakah yang paling dicintai oleh ALLOH?”</em>. Dan  Beliau menjawab : <em>“ Shalat tepat pada waktunya..”.</em> Kemudian beliau ditanya lagi,<em>“ Lalu apalagi ya Rosul?” </em>Rosul menjawab : <em>“ Birul Walidain…”.</em> Dan beliaupun ditanya kembali, <em>“Kemudian apa ya Rosul?”. </em>Beliaupun menjawab: <em>“ Jihad Fi Shabilillah..”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan lihatlah wahai ikhwah fillah…bagaimana kedudukan dari birul walidain itu. Baginda Nabi menempatkan perkara itu setelah shalat dan sebelum jihad!!</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa? Karena shalat adalah hak ALLOH atas hambaNya dan itu merupakan kewajiban yang utama bagi seorang hamba. Adapun birul walidain itu memiliki keutamaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jihad fi sabilillah, karena itulah Rosul menempataknnya diatas jihad. Bila Rosul tidak mengetahui keutamaan yang jauh lebih tinggi dan juga istimewa tentang birul walidain, tentu beliau akan menyebutkan perkara jihad terlebih dahulu  dibandingkan perkara birul walidain (karena jihad bagi kaum muslimin memiliki keutamaan yang sangat besar). Sungguh…segala perkataan Rosulullah adalah benar!</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa kita sadari, ada perkara “mudah” dan mungkin sering kita lalaikan padahal perkara itu bisa mengatarkan kita semua pada suatu keutamaan dan juga kemulian. Keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jihad  yang mungkin bagi kita (kaum muslimah tentunya tidak bisa mendapatkannya)</p>
<p style="text-align:justify;">Ya..birul walidain..berbuat baik kepada kedua orang tua kita sepanjang hayat kita… Subhanallah…..nikmat yang senantiasa terlupakan…..</p>
<p style="text-align:justify;">Terkait dengan perkara berbuat baik kepada kedua orangtua kita, Rasululloh telah memberikan contoh kepada kita semua, bagaimana kita berbuat baik kepada ke-2 orangtua kita. Telah disebutkan pada hadist pertama di atas..bahwa yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari seorang anak adalah orangtuanya, dimana ibu memliliki kedudukan yang 3x jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ayah!</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu mengapa Rosulullah menyebut nama IBU sampai 3 kali?? Sementara ayah dan saudara-saudara itu disebut 1 kali dan penyebutannya setelah ibu??</p>
<p style="text-align:justify;">Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah  diatas telah memberikan gambaran pada kita bahwa seorang ibu yang mana memiliki keistimewaan luar biasa ini dimuliakan dengan semulia-mulianya manusia yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun mengapa Rosul menyebutkan sampai 3 kali, hal ini terkait oleh 3 perkara yang mendasari yakni,</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.   Karena Ibu yang mengandung kita selama 9 bulan 10 hari..</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Telah disebutkan di dalam Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 14 :</p>
<p style="text-align:justify;">“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada  kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu..”</p>
<p style="text-align:justify;">Telah terang didalam firman ALLOH diatas, bagaimana  ALLOH melukiskan kondisi seorang wanita ketika mengandung anak-anaknya. Diatas kelemahan dan kepayahan (walaupun kondisi seorang wanita satu dengan yang lain itu berbeda-beda).Seorang ibu tetap berjuang untuk merawat dan menjaga benih yang ada di dalam rahimnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika setetes mani telah berhasil membuahi sebuah ovum, maka atas ijinNya dalam waktu singkat terjadilah berbagai fase dari proses pembentukan manusia. Fase-fase itulah akan menimbulkan kondisi yang jauh berbeda bagi seoranng wanita. Dimulai dengan perubahan kadar hormonal tubuh, kondisi fisik dan kondisi psikologisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya perubahan kadar hormonal tubuh, dimana nantinya plasenta si janin akan mengeluarkan suatu hormon bernama HCG (Human Corionic  Gonadotropin) yang kadarnya akan meningkat diawal-awal kehamilan. Lalu apa akibatnya dari peningkatan kormon ini? Morning Sickness atau yang lebih familiar adalah mual dan muntah di pagi hari. Mengapa demikian? Karena diduga hormone hCG ini merangsang pusat mual dan muntah di chemoreceptor trigger zone (CTZ) di hipotalamus (bagian pada otak). Adanya perangsangan inilah yang membuat ibu-ibu yang tengah hamil muda cenderung merasakan mual yang amat sangat, tiap kali makan akan dimuntahkan kembali, hingga mereka merasakan kepayahan dan kelemahan. Bahkan mungkin, karena makanan tidak dapat masuk sama sekali melalui mulut, sang ibu dengan ikhlas merelakan sebuah jarum infus menembus venanya dan sungguh hal ini merupakan sebagian bentuk cintanya kepada calon anaknya… Subhanallah….</p>
<p style="text-align:justify;">Belumlah cukup rasa kelemahan fisik yang dirasakan oleh si ibu akibat perubahan kadar hormonal itu, ditambah lagi dengan kelemahan psikologisnya. Kondisi psikologis seorang wanita yang tengah hamil, sedikit banyak akan berubah berubah. Mungkin si ibu menjadi lebih sensitive, lebih sabar, lebih manja, lebih gampang marah, lebih gampang meneteskan air mata, atau bahkan lebih ‘aneh’ karena ngidam?? Wallohu’alam….</p>
<p style="text-align:justify;">Dan semakin bertambah usia kehamilannya, semakin berat pula “beban” yang harus ditanggungnya. Membawa buah cinta kemanapun beliau pergi. menjaganya dengan penuh kehati-hatian, merelakan malam-malamnya dengan “kenyamanan ala kadarnya” karena sulitnya mengatur posisi tidur. Tengkurap tidak bisa, miring ke kanan atau kekiri akan terasa capek, terlentang tidak nyaman. Belum lagi ketika sedang sedikit terlelap, tiba-tiba sang jagoan kecil menyapanya dengan sentuhan-sentuhan yang mengejutkan, berputar-putar mengelilingi “rumahnya” atau dengan tendangan-tendangan yang cukup membuat sang ibu menahan sakit.Tapi, apakah mereka protes? Tidak!!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka akan tersenyum dan menyentuh dengan penuh cinta sang buah hati dan mengajaknya berkomunikasi…dalam kelelahan…mereka masih tersenyum bahagia… Subhanallah….</p>
<p style="text-align:justify;">Masa-masa sulit itu belumlah berakhir wahai saudaraku… Ketika harinya telah tiba… disaat sang bayi meminta untuk dilahirkan kedunia… Dengan sakit yang teramat sangat, beliau memulai perjuangan yang panjang.. Perjuangan dengan taruhan nyawa!!! Dengan segala risiko kelahiran yang telah siap “menunggu” dibelakangnya…prediksi kelahiran yang semula normal..bisa tiba-tiba saja berubah dalam sepersekian second!! Posisi bayi yang sungsang..tekanan darah yang tiba-tba tinggi (eklamsia).. tidak ada tenaga..perdarahan…solusio plasenta ..plasenta akreta ..ketuban pecah dini..semua itu bisa mengancam nyawa si ibu!! Kapanpun bila ALLOH berkendak…</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.   Karena Ibu yang merawat….</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Belumlah selesai perjuangan sang ibu…post partum (pasca melahirkan), Ibu harus langsung menyusui, memberikan ASI pertamanya kepada sang buah hati. Apalagi dengan adanya program IMD (inisiasi menyusu dini) ya karena ASI pertama mengandung banyak collostrum dan zat gizi penting lainnya yang sangat berguna dan menjadi “modal” bagi sang buah hati dalam kehidupannya kelak. Bayangkanlah wahai saudaraku..dalam kelelahan pasca melahirkan dengan sisa-sisa tenaga yang ada…beliau masih mempedulikan buah hatinya………Subhanallah…</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak hanya menyusui,ibu juga dengan penuh senyum melayani segala kebutuhan sang anak. Dia harus merelakan malam-malamnya untuk terjaga dan menggendong anaknya ketika menangis, menina-bobokan hingga sang anak terlelap kembali, menyusui ketika lapar, mengganti popoknya ketika sang anak kencing dan BAB, memandikannya, juga melakukan hal-hal “kecil” yang menakjubkan bagi si kecil…menyentuhnya dengan penuh cinta!</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lagi ketika sang buah hati tiba-tiba jatuh dalam keadaan sakit. Segala rasa gundah, cemas, khawatir, sedih..bercampur jadi satu.. mau makan ndak enak..tidur apalagi?! Anak..anak..dan anak…..!! Itulah yang terpenting baginya….</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.   Seorang Ibu adalah pengasuh  bagi anak-anaknya..</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Rumah adalah madrasah pertama bagi seorang anak..” begitulah bunyi ungkapan kata hikmah serta bijak yang menggambarkan betapa semua dan semula bermuara pada rumah. Bangsa besar dimulai dari bangunan rumah yang besar. Bangunan tersebut bukanlah bangunan rumah dengan pencakar langit atau pengeruk luas bumi. Melainkan fondasi keimanan, saling sinergi yang menyatukan nilai-nilai harmoni.</p>
<p style="text-align:justify;">Madrasah dengan “guru” yang super jenius yang tidak akan pernah dijumpai di madrasah atau sekolah-sekolah favorit lainnya.. Ibu..dialah guru itu. Beliaulah yang pertama mengajari sang buah hati tentang segala sesuatu.  Pelajaran pertama yang hendaknya sang ibu berikan adalah pengajaran mengenai dienNya. Disinilah sang ibu hendaknya pertama mulai mengenalkan anaknya pada ALLOH, Rabb Sang Pencipta. Mengajarkan lafadz ALLOH sambil mengisyaratkan menunjuk ke atas, membiasakan membaca basmallah ketika hendak melakukan sesuatu, juga mengajarkan hal-hal kecil yang nantinya akan diingat si anak sampai besar kelak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan telah terang bagi kita, mengapa Rosululloh menyebutkan “ibu” pertama kali yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari seorang anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu yang pastinya, semua anak mencintainya, menyayanginya, membanggakannya….</p>
<p style="text-align:justify;">Dan detik ini..tenggoklah wanita separuh baya di sudut rumah cinta kita…</p>
<p style="text-align:justify;">Yang sedang asyik menyapu, mengepel, menyuci, memasak, duduk tertidur karena kelelahan… beliau ..yang kita panggil “IBU”</p>
<p style="text-align:justify;">Sudahkah kau menyapanya hari ini? Sudahkah kau melayani keperluannya hari ini?</p>
<p style="text-align:justify;">*catatan juli ’08</p>
<br />Filed under: <a href='http://abuusamahrizki.wordpress.com/category/inspirasi/'>inspirasi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuusamahrizki.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuusamahrizki.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuusamahrizki.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuusamahrizki.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuusamahrizki.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuusamahrizki.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuusamahrizki.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuusamahrizki.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuusamahrizki.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuusamahrizki.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuusamahrizki.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuusamahrizki.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuusamahrizki.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuusamahrizki.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuusamahrizki.wordpress.com&amp;blog=1750724&amp;post=219&amp;subd=abuusamahrizki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuusamahrizki.wordpress.com/2011/10/26/karena-ia-kita-berharga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQnh8iM6dlvHJKXOIxZXCi0MqMRbvDUwqAkQQekygeuztyJZ5NQkSNiWA" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
